Beranda » BIJI TANAMAN » Jual Biji Jati Putih

Jual Biji Jati Putih

Kode: BJP010 Stok: Tersedia
Berat 300 gram
Kondisi Baru
Kategori BIJI TANAMAN
Dilihat 315 kali
Diskusi Belum ada komentar
Bagikan
INFO HARGA
Silahkan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi harga produk ini.
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Jual Biji Jati Putih
jati putih*Harga Hubungi CS
Tersedia / BJP010
Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Detail Produk Jual Biji Jati Putih

Jual biji jati putih atau gmelina dengan harga murah dan berkualitas unggul hubungi Hp: 081225757291 kami siap kirim keseluruh Indonesia.
Jati putih (Gmelina arborea) termasuk dalam famili Verbenaceae merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki beberapa keunggulan  antara lain cepat tumbuh, tahan kebakaran, mudah dalam teknik budidaya, dan kualitas kayunya yang cukup baik untuk berbagai kegunaan seperti furniture, pertukangan, kerajian dan ukiran. Tumbuh secara alami di Asia Selatan (India, Banglades, Srilangka, dan daratan China bagian selatan), dan di sebagian Asia Tenggara. Sedangkan Jati Putih di Indonesia merupakan jenis eksotik yang utuk pertama kali didatangkan dari Pilipina.
Pada tempat tumbuh optimum, jenis ini pada umur 8 – 12 tahun dapat mencapai tinggi 30 meter dengan diameter lebih dari 60 cm (Budiman Achmad, 2001 ; Alrasyid dan Widiarti, 1992). Tumbuh baik pada ketinggian 0 – 800 m dpl.




Curah hujan optimum berkisar antara 1800 – 2300 mm/tahun dengan bulan kering 3 – 5 bulan dan kelembaban minimum 40%, temperatur rata-rata 21-28ºC dengan suhu maksimum rata-rata bada bulan kering 24 –  35ºC, dan suhu minimum rata-rata pada bulan basah 18 – 24ºC

Jati Putih merupakan jenis pionir yang memerlukan cahaya langsung, sehingga tidak terlalu cocok jika ditanam secara sulaman. Disamping itu tanaman ini memiliki percabangan yang dominan terutama jika ditanam pada jarak yang lebar sehingga jika terlambat dilakukan pemangkasan/ prunning batang akan cenderung bengkok disebabkan beban cabang yang berat pada batang muda.

Untuk memperoleh  hasil dan kualitas produksi yang optimal dari tanaman Jati Putih diperlukan teknik budidaya yang lebih disesuaikan, antara lain  pola tanam yang serempak pada lahan yang sudah land clearing, dengan jarak tanam yang lebih rapat.

  1. BUDIDAYA
  1. Pengadaan Benih

Benih sebaiknya diperoleh dari sumber-sumber benih yang telah di-sertifikasi/ teridentifikasi, seperti Tegakan Benih, Areal Produksi Benih, atau Kebun Benih. Pelaksanaan pemanenan/ pengumpulan buah yang akan digunakan sebagai benih perlu memperhatikan saat yang tepat yaitu pada saat buah mencapai masak fisiologis yang dicirikan dengan kulit buah berwarna kekuningan.

  1. Penanganan Benih

Meliputi kegiatan pengunduhan, ekstraksi dan penyimpanan benih

  • – Pengunduhan/ pengumpulan

Secara sederhana pengumpulan buah dilakukan terhadap buah yang sudah jatuh dan masih segar

  • – Ekstrasi Benih

Untuk menjaga kualitas Benih maka terhadap buah yang telah dikumpulkan secepatnya dilakukan ekstrasi. Ekstrasi dapat dilakukan secara manual dengan diinjak-injak, setelah terlebih dahulu dihimpun dalam karung agar buah/ benih yang sedang diekstrasi tidak berhamburan. Ekstrasi dapat pula dilakukan  dengan menggunakan food prosesor seperti alat pengupas kopi yang telah dimodifikasi (Danu dan Zanzibar, 2000 dalam Aam Aminah dan Dede J.Sudrajat, 2004). Benih yang telah diekstrasi digosok/ diremas dengan pasir halus untuk menghilangkan sisa daging buah dan selanjutnya dicuci dengan air bersih yang mengalir.

  • – Penyimpanan Benih

Setelah proses ekstrasi selanjutnya benih dijemur ± 2 hari hinggga kadar air benih turun sampai  5 – 8%, selanjutnya benih disimpan dalam wadah yang kedap (plastik) dan diletakan di dalam ruangan.

  1. Pembibitan

Pertumbuhan bibit Jati Putih di persemaian umumnya sangat pesat – hanya dalam waktu 2 – 3 bulan bibit sudah siap tanam – oleh karena itu pelaksanaan pembibitan harus disesuaikan  dengan waktu tanam yaitu ± 3 bulan sebelumnya  (sekitar bulan Agustus)

  • – Penaburan Benih

Meskipun ukuran benih jati putih relatif besar tetapi karena setiap benih umumnya memiliki lembaga/ bakal tanaman lebih dari satu – disamping waktu perkecambahan yang relatif tidak seragam – maka sebaiknya proses pengecambahan dilakukan dalam bedeng tabur. Penggunaan bedeng tabur terutama dimaksudkan agar proses seleksi bibit – ukuran maupun mutu bibit – lebih mudah dilakukan pada saat penyapihan sehingga dihasilkan bibit yang seragam dalam bedeng persemaian.

Untuk memudahkan penanganan dan pemeliharaan disarankan menggunakan ukuran  bedeng tabur 5 x 1 meter. Media  yang digunakan adalah  campuran tanah dan pasir (1:1). Penaburan benih dilakukan setelah media disiram air secara merata, cara penaburan  benih dilakukan satu persatu dengan posisi benih yang berlubang menghadap ke atas, dan benih tidak sepenuhnya terbenam (lubang benih dibiarkan tampak). Benih di bedeng tabur memerlukan penyinaran  matahari secara penuh dan perlu dilakukan penyiraman setiap pagi.

  • – Penyapihan Bibit dan Pemeliharaan Persemaian

Setelah 2 – 3 minggu atau setelah memiliki sepasang daun,  bibit yang sehat dan normal dipindahkan ke polybag di persemaian. Media semai yang digunakan adalah campuran tanah gembur (top soil) dengan kompos (1:1), ukuran polybag yang tepat adalah 12 x 20 cm atau 13 x 17 cm.  Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi penyiraman, pembersihan gulma,  pemberantasan hama/penyakit dan perenggangan/ penggeseran (setelah pertumbuhan bibit cukup rapat). Disamping itu perlu dilakukan pengurangan intensitas cahaya 50% terutama pada waktu bibit baru disapih dengan memasang naungan (shadding net).

Perenggangan perlu dilakukan agar batang menjadi kokoh dan pertumbuhan bibit normal, karena itu diperlukan lahan persemaian sedikitnya 2 kali luas bedeng persemaian. Penggeseran polybag pada saat perenggangan juga berguna  untuk memutus akar yang sudah menembus tanah (akar yang keluar sebaiknya dipotong agar pertumbuhan akar terkonsentrasi dalam polybag) sehingga kekompakan media dengan akar tetap terjaga dengan demikian bibit tidak mengalami stress (layu) pada saat pengangkutan ke lokasi penanaman.

Yang perlu diperhatikan setelah perenggangan biasanya bibit mudah rebah sehingga perlu penanganan lebih intensif sebab keterlambatan 1 hari saja dalam mengembalikan posisi bibit  akan membuat bibit menjadi bengkok dan mutu bibit menjadi rendah.

Penurunan mutu bibit juga sering terjadi setelah bibit tiba di lokasi penanaman dan bibit tidak segera ditanam. Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya pengangkutan bibit dilakukan setelah lokasi penanaman betul-betul siap dan pelaksanaan penanaman sudah dijadualkan.

Pemupukan dengan NPK (5 gram/liter air) dilakukan hanya jika dianggap perlu, karena dengan menggunakan media campuran tanah dan kompos pertumbuhan bibit di persemaian pada umumnya cukup normal. Sesaat setelah pemupukan dengan NPK yang dilarutkan, daun/ pucuk yang terkena larutan agar dibilas dengan air bersih untuk menghindari kerusakan.

  1. Pembiakan Vegetatif

Pembiakan vegetatif hanya merupakan alternatif jika persediaan benih (generatif) terbatas, atau untuk memanfaatkan sisa bibit dari tahun semai sebelumnya.Pembiakan vegetatif  dilakukan dengan menggunakan stek batang yang berasal dari bibit  umur 1 tahun (diameter batang ≤ 1 cm). Secara manual (tanpa perlakukan khusus) cara ini lebih mudah dilakukan dengan tingkat keberhasilan tumbuh yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan stek pucuk. Disamping itu ketersediaan bahan stek batang umumnya lebih banyak jika dibandingkan dengan bahan stek pucuk. Untuk menghasilkan kualitas batang bibit yang tegak/ lurus sebaiknya  ujung stek yang muncul dipermukaan media tidak terlalu tinggi (± 2 cm). Pelaksanaan pembiakan vegetatif dapat dilakukan langsung di dalam polybag  dengan menggunakan media yang sama dengan pembiakan generatif (benih), tetapi kelembabannya harus lebih terjaga.

  1. PENANAMAN

Penanaman dilakukan pada saat curah hujan sudah merata atau sekitar Bulan Nopember- Desember. Kegiatan penanaman didahului dengan persiapan dan pembersihan lahan  (land clearing), pengukuran dan pemasangan ajir, dan pembuatan lubang tanam dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Pemberian pupuk kandang dilakukan 1 – 2 minggu sebelum penanaman.  Sedangkan jarak tanam terbaik adalah 2 x 2 meter. Jarak tanam yang rapat ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tinggi dan mengurangi pengembangan cabang yang dominan, sehingga diharapkan pertumbuhan batang menjadi lurus.

Dalam penanaman jati putih dapat dilakukan pola tumpangsari dengan tanaman palawija atau jenis lainnya, tetapi karena jarak tanam yang relatif rapat maka tumpangsari dengan palawija hanya dapat  dilakukan pada tahun pertama. Untuk tumpangsari dengan tanaman tahunan disarankan menggunakan tanaman rempah yang mempunyai sifat toleran terhadap sinar matahari seperti Kapol (jarak tanam kapol 2 x 2 meter), tetapi penggunaan jenis tanaman tumpangsari ini pada tahun-tahun berikutnya perlu diperhatikan persaingan kebutuhan unsur hara tanah dengan tanaman pokok.

Tags: , , , ,

Ditambahkan pada: 23 Desember 2019
Produk Terkait
Diskusi Produk (0)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

snapshot_2016-10-10_2-35-6

Alamat Kami

CV.ADHITYA KENCANA GROUP
Jl. Raya Sirangkang No.3, Rt. 02 / 01 Kelurahan. Sirangkang – Kec.Petarukan Kab.Pemalang – Jawa Tengah, Indonesia ( 52362 ) Telp: 081225757291 ( WA / SMS ) Live Chat Online
E-mail : cvakggroup@gmail.com
Buka setiap Hari Senin - Sabtu (08:00 - 16:00) WIB

FOLLOW TWITTER KAMI

KERJA SAMA

Kami siap bekerja sama dengan instansi manapun baik dari instansi pemerintahan maupun swasta,guna untuk memenuhi kebutuhan pengadaan benih dan bibit tanaman yang siap tanam dan tentunya berkualitas unggul. Untuk informasi ketersediaan benih dan bibit tanaman jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami.
Chat via Whatsapp
Cs Admin
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Cs Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
error: Content is protected !!